Kumpulan Judul KTI Kebidanan Terbaru 2017

Kumpulan Judul KTI Kebidanan Terbaru 2017


Di bawah ini adalah Beberapa Contoh Judul KTI terbaru kebidanan, yang bisa di jadikan acuan buat mahasiswi kebidanan yang masih bingung dengan judul-judul KTI, berikut Admin akan paparkan kepada kalian, silahkan di simak dan Semoga bermanfaat,............


Kumpulan Judul KTI Kebidanan Terbaru 2017



  • HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN RUPTURE PERINEUM PERSALINAN NORMAL PADA PRIMIGRAVIDA DI RS
  • FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEENGANAN AKSEPTOR KB UNTUK MENGGUNAKAN ALAT KONTRASEPSI IUD DI PUSKESMAS
  • ANALISA SENAM HAMIL PADA IBU HAMIL DI KELAS IBU DI PUSKESMAS
  • FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT IBU TERHADAP PEMAKAIAN KONTRASEPSI IMPLANT DI PUSKESMAS
  • KEPATUHAN IBU HAMIL DALAM MENGKONSUMSI TABLET FE DI PUSKESMAS
  • FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN VITAMIN A PADA BAYI OLEH KADER DI POSYANDU WILAYAH PUSKESMAS
  • KARAKTERISTIK PELAKSANAAN SENAM LANSIA DI POSYANDU DESA PUSKESMAS
  • PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DAN BALITA DI PUSKESMAS
  • PENGETAHUAN REMAJA AWAL (11-13 TAHUN) TENTANG PENGERTIAN DAN PERUBAHAN FISIK PUBERTAS DI SMP
  • PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TERHADAP PERUBAHAN FISIOLOGIS PADA MASA KEHAMILAN DI PUSKESMAS
  • PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG MENSTRUASI DI SMP
  • PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU PRIMIGRAVIDA TENTANG PERSIAPAN PERSALINAN DI RSUD
  • GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU YANG MEMPUNYAI BALITA (1-5 TAHUN) DI POSYANDU
  • KARAKTERISTIK IBU HAMIL YANG MELAKSANAKAN ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS
  • KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB SUNTIK DI DESA WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG CARA MENYUSUI DI DESA
  • KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB SUNTIK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  •  GAMBARAN PELAKSANAAN KELAS IBU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN IBU DALAM MENGHADAPI PERSALINAN DI RS
  • TINJAUAN PELAKSANAAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN DI PUSKESMAS
  • GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TRIMESTER I TENTANG EMESIS GRAVIDARUM DI RS
  • GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB PIL TENTANG EFEK SAMPING PIL ORAL KOMBINASI (POK) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TERHADAP RESIKO PERKAWINAN DINI PADA KEHAMILAN DAN PROSES PERSALINAN DI DESA
  • GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG SENAM HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • GAMBARAN PELAKSANAAN 7T PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG GIZI DENGAN STATUS GIZI BALITA DI KELURAHAN
  • KARAKTERISTIK IBU HAMIL DENGAN PRE-EKLAMSI DI RUMAH SAKIT UMUM
  • TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG PERIKSA PAYUDARA SENDIRI (SADARI) DI SMU
  • GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KEBERSIHAN ALAT KELAMIN PADA SAAT MENSTRUASI DI DESA
  • TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI USIA (6-24 BULAN) DI PUSKESMAS
  • GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG VITAMIN A DI POSYANDU  WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK TENTANG EFEK SAMPING DEPO MEDROXYPROGESTERONE ASETAT (DMPA) DI RS
  • GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI KELAS II TENTANG DIET SEIMBANG DI SMA NEGERI
  • FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA CAKUPAN KN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • PENGETAHUAN AKSEPTOR KB PIL TENTANG EFEK SAMPING POK (PIL ORAL KOMBINASI) DI PUSKESMAS
  • KARAKTERISTIK BALITA YANG MENDERITA ISPA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN IBU DALAM MENGHADAPI PERSALINAN, DI PUSKESMAS
  • GAMBARAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG PERAWATAN TALI PUSAT DI PUSKESMAS
  • KARAKTERISITK AKSEPTOR KB POK (PIL ORAL KOMBINASI) DIPUSKESMAS
  • GAMBARAN PELAKSANAAN KEGIATAN POSYANDU DI DESA
  • PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TABLET FE DI PUSKESMA
  • PENGETAHUAN IBU YANG MEMPUNYAI BAYI 0-6 BULAN TENTANG MANFAAT ASI EKSKLUSIF DI PUSKESMAS
  • HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI TERHADAP PEMBERIAN PASI PADA BAYI 0-6 BULAN DI PUSKESMAS
  • GAMBARAN PENATALAKSANAAN MANAJEMEN LAKTASI MASA NIFAS DINI OLEH PETUGAS KESEHATAN TERHADAP IBU-IBU POST PARTUM DI 3 BPS
  • GAMBARAN PENATALAKSANAAN BAYI BARU LAHIR NORMAL 0-6 JAM DI BPS WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG HIV/AIDS DI SMA NEGERI
  • KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN PARTUS LAMA DI RS
  • PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TANDA-TANDA BAHAYA MASA NIFAS DI PUSKESMAS
  • PENGETAHUAN IBU PRIMIPARA TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN DI PUSKESMAS
  • GAMBARAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • KARAKTERISTIK IBU YANG MEMERIKSAKAN PAP SMEAR DI RUMAH SAKIT
  • GAMBARAN AKSEPTOR KB AKDR DI PUSKESMAS
  • PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG ALAT KONTRASEPSI KB SUNTIK DI PUSKESMAS
  • PENGETAHUAN REMAJA PUTRI KELAS III TENTANG SEKS SEKUNDER DI SMP
  • PENGETAHUAN REMAJA PUTRI MASA PUBERTAS TENTANG DYSMENORE DI SMP
  • GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG MENARCHE DI SMP NEGERI
  • KARAKTERISTIK PASANGAN USIA SUBUR YANG TIDAK MENGIKUTI PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI PUSKESMAS
  • PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI 6 – 24 BULAN DI PUSKESMAS
  • GAMBARAN AKSEPTOR KB METODE OPERATIF PRIA (MOP) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • GAMBARAN PENYAPIHAN ANAK KURANG DARI 2 TAHUN DIPUSKESMAS
  • KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN PARTUS LAMA DI RS
  • PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TENTANG KEHAMILAN DIPUSKESMAS
  • PENGETAHUAN TENTANG BAHAYA MEROKOK PADA SISWA KELAS II SMA NEGERI
  • GAMBARAN PENATALAKSANAAN CARA MEMANDIKAN NEONATUS 0-7 HARI TERHADAP IBU NIFAS DI PUSKESMAS
  • FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANEMIA DALAM KEHAMILAN DI PUSKESMAS
  • PENATALAKSANAAN PENCEGAHAN INFEKSI PADA PROSES PERTOLONGAN PERSALINAN DI RS
  • CAKUPAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA IBU NIFAS DIPUSKESMAS
  • KARAKTERISTIK IBU HAMIL YANG MENGKONSUMSI TABLET FE DI PUSKESMAS
  • GAMBARAN RENDAHNYA CAKUPAN PENIMBANGAN BALITA DIPUSKESMAS
  • PENGETAHUAN DAN APLIKASI MAHASISWI TINGKAT II KEBIDANAN TENTANG PARTOGRAF
  • GAMBARAN PENGETAHUAN PRIMIPARA TERHADAP PERKEMBANGAN BAYI 0-1 TAHUN DI PUSKESMAS
  • PENGETAHUAN WANITA PRA-MENOPAUSE TENTANG PERUBAHAN FISIOLOGIS MENOPAUSE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TERHADAP KEPUTIHAN DI SMU
  • HUBUNGAN MOBILISASI DINI POST SECTIO CAESARIA (SC) DENGAN PROSES PENYEMBUHAN LUKA OPERASI DI RUANG KEBIDANAN
  • FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKSEPTOR GANTI CARA DARI SUNTIK KE PIL DI BPS
  • FAKTOR PENYEBAB PERDARAHAN POST PARTUM DI RUANG
  • FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TINGGINYA AKSEPTOR KB SUNTIK DI BPS
  • GAMBARAN PENANGANAN TERHADAP REMAJA PUTRI KORBAN PERKOSAAN DI UNIT PELAYANAN TERPADU-PEREMPUAN KORBAN TINDAK KEKERASAN (UPT-PKTK)
  • PENATALAKSANAAN KALA III DAN KALA IV OLEH BIDAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • PENATALAKSANAAN RETENSIO PLASENTA DI RUANG
  • FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA IBU NIFAS DI PUSKESMAS
  • HUBUNGAN PENGETAHUAN AKSEPTOR IUD DENGAN KECEMASAN AKSEPTOR IUD DI BPS WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA DIARE PADA BALITA DI RUMAH SAKIT
  • GAMBARAN PENGETAHUAN CALON AKSEPTOR KB MENGENAI KBA METODE OVULASI BILLING DI RUMAH SAKIT PANTI
  • FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN BENDUNGAN ASI PADA IBU POST PARTUM 6 HARI DI DESA … WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB BELUM TERCAPAINYA CAKUPAN K4 DI DESA … WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI DESA … KECAMATAN
  • GAMBARAN PENGETAHUAN ORANGTUA TENTANG IMUNISASI DPT DI PUSKESMAS
  • HUBUNGAN PELAKSANAAN ASUHAN SAYANG IBU TERHADAP PROSES PERSALINAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA KELUHAN PREMENOPAUSE PADA IBU YANG BERKUNJUNG KE RB
  • FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA PENGGUNAAN METODE KONTRASEPSI JANGKA PANJANG (MKJP) WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • KARAKTERISTIK IBU DENGAN PERSALINAN SECTIO CAESARIA DI RUMAH SAKIT
  • KARAKTERISTIK WANITA USIA SUBUR (WUS) YANG MENGALAMI KEPUTIHAN DI RB
  • HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN STATUS GIZI PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN EMESIS GRAVIDARUM PADA IBU HAMIL TRIMESTER I DI RUMAH SAKIT
  • GAMBARAN FAKTOR KEJADIAN BENDUNGAN ASI PADA IBU POST PARTUM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • HUBUNGAN ANTARA PARITAS DENGAN KEJADIAN RETENSIO PLASENTA DI RSUD
  • GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG MATERI BUKU KIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB SUNTIK YANG MENGALAMI KENAIKAN BERAT BADAN DI BPS
  • PENGETAHUAN DAN SIKAP PASANGAN USIA SUBUR TENTANG PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI IUD DI DESA
  • GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TERHADAP STANDAR PELAYANAN ANTENATAL OLEH BIDAN DI PUSKESMAS
  • GAMBARAN PELAKSANAAN ANTENATAL CARE DI BPS WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN MP-ASI TERLALU DINI DI DESA
  • GAMBARAN PENERAPAN KONSELING KB TERHADAP PEMAKAIAN KONTRASEPSI IMPLANT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • KARAKTERISTIK IBU DENGAN ABORTUS DI RSUD
  • KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB IUD TERHADAP PENGGUNAAN AKDR/IUD DI PUSKESMAS
  • FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN KOLOSTRUM PADA IBU NIFAS HARI PERTAMA DI BPS
  • GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG DAMPAK PERNIKAHAN DINI PADA KESEHATAN REPRODUKSI DI LINGKUNGAN
  • GAMBARAN PENERAPAN ASUHAN PERSALINAN NORMAL (KALA I ) DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD)
  • KARAKTERISTIK BALITA GIZI KURANG DI KAMPUNG
  • FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BIDAN MELAKUKAN SUNAT PEREMPUAN DI TIGA KECAMATAN DI KABUPATEN
  • GAMBARAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TANDA-TANDA BAHAYA MASA NIFAS DALAM PEMANFAATAN BUKU KIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • GAMBARAN LAMA PENGGUNAAN KB SUNTIK TERHADAP SIKLUS MENSTRUASI PADA AKSEPTOR KB SUNTIK DI DESA
  • ANALISIS PELUANG TERJADINYA PRE EKLAMPSIA BERAT (PEB) PADA PASIEN HYPERTENSI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD)
  • HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK DENGAN INTENSITAS NYERI PERSALINAN KALA I DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • KARAKTERISTIK PENDERITA DIARE DI RUANG ANAK RUMAH SAKIT
  • HUBUNGAN USIA IBU DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI RUMAH SAKIT
  • KARAKTERISTIK IBU POST PARTUM YANG MENGALAMI INFEKSI NIFAS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • HUBUNGAN PENGETAHUAN BIDAN TENTANG STANDAR ANTENATAL CARE (ANC) DENGAN PELAKSANAANNYA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • HUBUNGAN PENGETAHUAN BIDAN TENTANG STANDAR ANTENATAL CARE (ANC) DENGAN PRAKTEK PELAKSANAANNYA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  • HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN BUDAYA PATRIARKI DENGAN KEJADIAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) DI DESA PURWAJAYA WILAYAH KERJA PUSKESMAS

Kumpulan Judul KTI dan Skripsi Farmasi Terbaru

Kumpulan Judul KTI Farmasi dan Skripsi Farmasi Terbaru

Berikut Daftar Kumpulam Judul PROPOSAL, TUGAS AKHIR dan SKRIPSI FARMASI Terbaik Mudah Dikerjakan. Ini adalah daftar judul proposal dan skripsi farmasi yang bisa kita gunakan sebagai bahan acuan sebelum menentukan judul Tugas akhir atau Skripsi.

Sulitnya Tugas Akhir atau Skripsi farmasi banyak membuat para mahasiswa jurusan farmasi merasa sangat berat dalam menyelesaikan Tugas Akhir atau Skripsi, Oleh karena itu kita tidak boleh sembarangan dalam menentukan judul TUgas atau Skripsi Farmasi.


Kita baru bisa menentukan judul skripsi farmasi setelah memiliki banyak rujukan judul-judul skripsi yang pernah dikerjakan oleh mahasiswa terdahulu. Dengan rujukan inilah kita nanti bisa menentukan kira-kira judul apakah yang akan kita pilih untuk dikerjakan. Berikut Admin akan memberikan beberapa rujukan judul yang bisa di jadikan bahan acuan buat teman-teman dan adik-adik yang masih bingung dengan judul yang akan diajukan untuk syarat kelulusan pada jenjang D3 maupun jenjang S1 pada jurusan Farmasi ^_^ 

Kumpulan Judul KTI Farmasi dan Skripsi Farmasi Terbaru

Daftar Judul PROPOSAL, KTI, TUGAS AKHIR dan SKRIPSI FARMASI :

  1. Penetapan Kadar Vitamin C Secara Spektrofoto Metrisinar Tampak Menggunakan Pereaksi 1-Kloro-2,4 Dinitrobenzena Dalam Sediaan Farmasi Tanpa Pemisahan Lebih Dahulu
  2. Pengaruh Infus Daun Berlena Prionitis L. Terhadap Kelarutan Kalsium Batu Ginjal Secara Invitro
  3. Pengaruh Infus Daun Clero Clendron Sebratun Spreny Terhadap Kelarutan Kelsium Batu Ginjal Secra Invitro
  4. Penetapan Aktivitas Enzim Yang Berkelarutan Sebagai Invertase Dari Hasil Fermentasi Oleh Ragi Roti (Saccha Romy Les Cerevisiae) Dengan Insidur Amilum Beras
  5. Pengaruh Flufenazin Hidro Klorida Terhadap Absorbsi Glukosa Pada Membran Usu Halus Tikus
  6. Isolasi Dan Iddentifikasi Pektin Dari Kulit Pisang Kepok
  7. Uji Pendahuluan Aktivitas Antimikroba Serbuk Cacing Patak Terhadap Salmonello Typhi
  8. Pengembagan Fomulasi Sediaan Tablet Deksametason Secara Kempa Langsung Dengan Teknik Dispersi Padat
  9. Mikroenkapsulasi Teofilin Dengan Protein Kedelai Hitam ( Glycinemax ) Sebagai Penyallit Menggunakan Metode Denaturasi
  10. Pengaruh Infusa Daun Kumis Kucing ( Orthosiphoaristatus, Bi. Mig) Terhadap Jumlah Urina Tekanan Darah Kucing Teranastesi
  11. Uji Aktivitas Antibaktei Esktrak Estanol Dari Dua Metode Maserasi Koteks Kayu Manis Jangan ( Cinnamomun Burmanni Ness Ex Bi.) Terhadap Escherichia Coli Serta Profil Kromatografi Lapis Tipisnya
  12. Pengaruh Variasi Wakktu Fermentasi Terhadap Kadar Estanol Hasil Fermentasi Kulit Singkong ( Manihot Utillissma Pahl)
  13. Pengaruh Metode Penyarian Terhadap Perbedaan Hasil Analisis Kadar Tanin Dalam Daun Jambu Biji ( Psidium Guajava L. ) Secara Spektrofotometri Sinar Tampak
  14. Uji Kepekaan Bakeri Patogen Pada Urin Dari Laboratorium Klinik Dan Rumah Sakit Umum Daerah Yogyakarta Terhadap Antibiotik
  15. Profil Sifat Fisik Dan Pelepasan Obat Tablet Asetosal Produk Paten Dan Generik Yang Berdar Di Masyarakat
  16. Tinjauan Pola Pengobatan Hipertensi Primer Pada Pasien Geriatri Di Rsu Pku Muhammadiyah Yogyakarta Periode Tahun 2003
  17. Pengaruh Infusa Daun Ketepeng Cina ( Cassia Alata L) Terhadap Kadar Triliserida Tikus Putih Wistar Yang Diberi Diet Lemak Tinggi
  18. Rasionalitas Penggunaan Obat Untuk Penyakit Hiperlipidemi Pada Pasien Geriatri Instalasi Rawat Inap Penyakit Dalm Rsup Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2000 S/D 2001
  19. Cara Pembuatan Simpleks Yang Baik Dan Pemeriksaan Kualitatif Dan Kuantitatif Dari Rimpang Temu Lawak ( Curcuma Xantliorrhiza Roxb)
  20. Uji Daya Antiinplamasi Natrium Pentagamavunonat – O Yang Diberikan Secra Peroral Terhadap Udem Kaki Tikus Terinduksi Fordial Dehid
  21. Pengaruh Kadar Bahan Pengikat Musilago Amilum Jagung (Zea Masy, L) Terhadap Migrasi Tablet Vitamin Bg Seta Sifat Fisik Tablet
  22. Isolasi Fraksi Aktif Antimikroba Herba Patah Tulang ( Euphorbia Tirucalli L) Terhadap Candida Albicans
  23. Pengaruh Pemberian Susu Kuda Fermentasi Terhadap Anti Bodi Imunoglobulin A ( Lga) Mencit Setelah Vaksinasi Hepatitis A
  24. Daya Anti Inflamasi Kombinasi Jus Aple Hijau ( Pyrus Malus. L) Dan Wortel ( Daucus Carota L.) Pada Mencit Betina
  25. Pengaruh Sisitem Penyarian Daun Salam ‘ Eugenin Plyanta Weigth” Trhadap Bacteri Aschericia Coli Dan Staphylococcus Aureus Secara In Vito
  26. Uji Aktivitas Anti Bacteri Rimpng Temulawak “ Curcuma Xanthorrhiza Dan Escherichhia Coli Secara In Vito
  27. Efek Fraksi Chloroform Serbuk Daun Mimba ( Azadiranta A Juss) Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Pada Tikus Jantan Wistar
  28. Tinjauan Pola Pengobatan Hipertensi Primer Pada Pasien Geietri Di Rsu Pku Muhammadiyah Yogyakarta Periode Tahun 2003
  29. Kombinasi Aerosil Avicet Ph 101 Dalam Formulasi Tablet Ekstrak Biji Waluh ( Curcubita Moschata/ Duch0 Poir
  30. Profil Pelepasan Teofilin Dari Granil Sediaan Lepas Lambat Menggunakaan Metochel K 15 M Sebagai Matrik
  31. Pengobatan Sendiri Menggunakan Analgetika Antipiretik Oleh Masyarakat Kota Yogyakarta.
  32. Toksifitas Akut Ekstrak Choroform Dan Ekstrak Methanol Buah Leunea ( Solaneum Ningrum. L ) Terhadap Larva Atemina Salena Leach.
  33. Peningkatan Kadar Polisakarida Pada Tulang Jamur Sitake Dan Penambahan Vitamin B1 Dan Magnesium Sulfat Pada Media Tanam Serta Uji Imunomodulatornya Pada Sel Limfosit Mencit
  34. Uji Aktivitas Invus Daun Kepel Sebagai Penurun Kadar Asam Urat Dalam Darah
  35. Uji Aktivitas Infus Daun Sirih (Piper Betle L ) Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans
  36. Pola Pengobatan Penyakit Hepertensi Pada Pasien Rawat Inap Di Rsud Kota Yogyakarta Selama Tahun 2004 -2006
  37. Uji Efek Analgetika Infus Daun Sengggani (Melastoma Offine D-Don) Pada Mencit Putih Betina Galur Ddi
  38. Penata Laksanaan Terapi Pasien Keracunan Makanan Di Instalasi Rawat Inap Di Rsud Wates Diy Tahun 2000 – 2005
  39. Identifikasi Drug Related Problem (Dpr) Dalam Pengobatan Dungue Hemoragie Fever (Dhf) Pada Pasien Pediati Di Instalasi Rawat Inap Rsu Pku Muhammadiyah Yogyakartaa Periode Februari - April 2006
  40. Uji Aktivitas Fraksi Aktif Ekstrak Diklormetan Daun Cakring (Erithrina Fusca Lour) Terhadap Sel Kanker Leher Rahim (Sel, Hela) Tinjauan Sitotosik, Antiprolikeratif Dan Pemacuan Amaptosis
  41. Peningkatan Kelarutan Piroksikarti Melalui Pembentukan Kompleks Dengan Poli Etilen Glikol – 4000
  42. Pola Pengobatan Depresi Di Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2005
  43. Evaluasi Penggunaan Obat Asma Pada Pasien Asma Di Instlasi Rawat Inap Rsup Dr. Sardjito Yogyakarta. Periode Januari – Desember 2005
  44. Efek Surpresif Curcuma Xanthorriza Roxg Terhadap Progresifitas Rheumatitoid Arthritis Pada Tikus Jantan Galur Wisata Setelah Terinduksi Complete Freund’s Adjusxant Ditinjau Dari Parameter C Darah.
  45. Pengaruh Pemberian Ekstrak Ethanol Herbapegagan 9 Contlla Asiatica (L) Urrb ) Terhadapaktivitas Fagositesis Makkrofag Pada Mencit Jantan Galur Swiss
  46. Pengaruh Praperlakuan Air Persan Rimpang Bengle (Zingiber Purpureum Roxb) Terhadap Efek Analgetik Paracetamol Pada Mencit Jantan Galur Swiss Dengan Metode Rangsang Kimia
  47. Pengaruh Perpelakuan Air Perasan Rimpang Kencur (Kaempferia Galanga L.)Terhadap Efek Analgetik Paracetamol Pada Mencit Jantan Galur Swiss Dengan Methoda Rangsang Kimia
  48. Pengaruh Perpelakuan Air Perasan Rimpang Temu Hitam (Curcuma Aeruginnosa Roxb) Terhadap Efek Analgetik Paracetamol Pada Mencit Jantan Galur Swiss Dengan Methoda Rangsang Kimia
  49. Serbuk Hasil Optimasi Pengeringan Getah Salak Pondoh (Salacca Euducus Reinw L.) Sebagai Suspending Agent Susupensi Sulfadimidin Dibandingkan Dengan Cmc – Na
  50. Pelaksanaa Pelayanan Informasi Obat Di Sepuluh Apotek Besar Di Kab. Bantul
  51. Identifikasi Drug Related Problem (Drp)Dalam Pengobatan Sepsis Dan Syok Septik Pada Pasien Anak Di Instalasi Rawat Inap Rs Dr. Sardjoito Yogyakarta Periode 2000-2004,
  52. Kajian Keamanan Penggunaan Obat Pada Penyakit Paru Abstruksi Kronis Di Rs Panti Rapih Yogyakarta Pada Tahun 2004
  53. Pengaruh Pemberian Campuran Ekstrak Kering Daun Dewa
  54. Perbandingan Daya Antioksidan Ekstrak Etanol Kayu Secang Putih Dan Merah (Caesalpinia Sappan L.) Terhadap Dpph (1,1-Diphenyl-2-Picrylhydrazyl). 
  55. Opini Apoteker Dan Pasien Terhadap Peran Apoteker Dalam Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Kota Merauke.
  56. Pengaruh Edukasi Melalui Media Visual Buku Ilustrasi Terhadap Pengetahuan Dan Kepatuhan Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2.
  57. Studi Pelaksanaan Pelayanan Informasi Obat Di Rumah Sakit X Surabaya.
  58. Harapan Dan Kepercayaan Konsumen Apotek Terhadap Peran Apoteker Yang Berada Di Wilayah Surabaya Timur.
  59. Daya Peredam Radikal Bebas Ekstrak Metanol Biji Pepaya (Carica Papaya L.) Dengan Metode Dpph (1,1 Diphenyl 2-Picry Hydrayl).
  60. Pemeriksaan Kandungan Pemanis Dan Pewarna Sintetik Dalam Es Lilin Tidak Bermerek Dan Tidak Berlabel Yang Diproduksi Oleh Industri Rumah Tangga X Kecamatan Ambulu-Jember.
  61. Studi Hubungan Persepsi Sakit (Illness Perception) Dengan Kontrol Penyakit Pada Pasien Asma Di Apotek Bentar 2 Rewwin.
  62. Profil Penyimpanan Obat Di Puskesmas Pada Dua Kecamatan Yang Berbeda Di Kota Kediri.
  63. Analisis Boraks Pada Bakso Daging Sapi C Dan D Yang Dijual Di Daerah Lakarsantri Surabaya Menggunakan Spektrofotometri.
  64. Profil Pengetahuan Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Surabaya Terhadap Bahaya Rokok.
  65. Analisis Kadar Merkuri (Hg) Dalam Sediaan Hand Body Lotion Whitening Pagi Merek X, Malam Merek X, Dan Bleaching Merek X Yang Tidak Terdaftar Pada Bpom.
  66. Formulasi Sediaan Gel Hand Sanitizer Dengan Bahan Aktif Triklosan 1,5.
  67. Analisis Pewarna Rhodamin B Dan Pengawet Natrium Benzoat Dalam Saus Tomat P Dari Pasar X Surabaya Timur.
  68. Analisis Boraks Dalam Sampel Bakso Sapi I, Ii, Iii, Iv, V, Vi, Vii, Dan Viii Yang Beredar Di Pasar Soponyono Dan Pasar Jagir.
  69. Harmonisasi Organel Dalam Sel, Pendekatan Aplikatif Biologi Sel Untuk Profesi Kesehatan. Revka Petra Media, Surabaya.
  70. Uji Daya Anti Bakteri Muehllen Beckia Platyycla -95 Dameisyn (Jakang) Dan Skrining Fito Kimianya
  71. Formula Suspensi Kkloram Fenikol Palmitat Menggunakan Derivat Selulosa Sebagai Zat Pensuspensi
  72. Studi Kadar Minyak Aksiridari Curcuma Aero Dinosa Roab Selama Masa Tumbuh
  73. Efek Analgetik Beberapa Fraksi Daun Justicia Genda Russa Burm F Pada Mencit
  74. Studi Pendahuluan Pengaruh Faktor-Faktor Non Farmasi Terhadap Motivasi Pemilihan Apotik
  75. Pengaruh Pemberian Ekstrak Kulit Akar Senggugu (Cleroden Dron Serratum Spreng) Trhadap Respon - 98 Histaminik Dan Kli Nergik Trakea Terisolasi Niarmut
  76. Pengaruh Penggunaan Cmc Na. Hidro Melose Metilse Lulose Dan Hidrok Sietil Selulose Sebgai Bahan - Pensusupenssi Terhadap Stabilitas Fisis Suspensi Trisulfa
  77. Uji Hmabatan Pelekatan Librio Cholerae 01 Pada Sel Enterosit Usus Halus Tikus Menggunakan Antibodi Poliklonal Anti Protein 36 Kda Dan Kda
  78. Efek 4 Metil Kurkumin Dan 4 (Para Metil Penil ) Kurkumin Terhadap Aktivitas Blutation S Trasee Rase Liver Tukus
  79. Perilaku Asper Gillus Oky 2ae, 1, Sojae Rhizopus Oligosporus Dan R. Oryzae Pada Kadar Gukosida Sianogen Biji Koo Benguk (Mucuna Pru Riens D.C)
  80. Farma Kokinetika Salisilat Pada Kelinci Setelah Pemberian Injeksi Intra Vena Dan Infus Intavena Selama 20 Dan 30 Menit
  81. Isolasi Dan Identifikasi Antigen Virus Dengue Serotipe 1,2,3 Dan 4 Serta Pemanfaatannya Sebagai Antigen
  82. Perbedaan Arklirasi Pada Turunan Ester Malonat Dengan Menggunakan N-Butil Iodida Dan Isoprofil Iodida
  83. Studi Inhibisi Senyawa Analog Kurkumin Terhadap Aktivitas Glutation S-Transferrase Liver Tikus Dengan Subltras I-Kloro 24 Dinitrobenzan
  84. Isolasi Antibiotik Penisilin Dari Biakan Penicilliun Notatum At Acc No. 9179
  85. Aktivitas Biologis Fraksi Risidu Ekstra Ketanol Daun Gynura Procumbens (Lour0 Merr Terhadap Kultur Sel Dan Kultur Sel Mieloma
  86. Studi Inhibsi Senyawa Analog Kurkulum Terhadap Aktivitas Glutation S-Tranferrase Liver Tikus Dengan Subsrat 1,2 Dikloro 4, Nitrobenzen
  87. Isolasi Dan Identifikasi Imuno Globulin 6 (Ig 6) Asam Anti Protein Sub Unit Piu Shigella Flexnen
  88. Pengaruh Infus Daun (Lerodendran Sepratan Speny) Terhadap Kelarutan Kalsilim Batu Ginjal Secra Invitro
  89. Isolasi Dan Penetapan Kadar Stigmasterol Dalam Kedelai Tahu Dan Ampas Tahu
  90. Isolasi Dan Identifikasi Flavovoid Dari Tumbuhan Imperata Clylindrica Beauv Vare Major Hubb
  91. Isolasi Dan Identifikasi Flavonoid Dari Rimapang Zingiber Purpurfun Roxb
  92. Sintetis Nis Di Asil L-Siste In Dan Pengaruh Panjang Rantai Karbon Terhadap Salmonelltyphi
  93. Berbagai Media Tumbuh Escherichia Soli Untuk Mengubah Berzil Penisilin Menjadi Asam G Amino Pensilanat
  94. Deteksi Aktivitas Aspara Binase Dalam Daun Loranthus Globasusu Poxb
  95. Pengaruh Sari Scurrula Lapidata (Bi) G Doz Terhadap Aktivitas Fosfatase Alkali, Glutamat Oksalo Asetat Transaminase Dan Kadar Protein Total Serum Tikus Putih Jantan Yang Telah Diperlakukan Dengan Benzilin.
  96. Isolasi Dan Identifikasi Isolalonold Dari Kulit Kayu Glineidia Sepium (Jecd) Stebud
  97. Uji Toksisitas Akuit Antesterin Dalam Ekstrak Aseton Daun Kupatonium Inuli Folium H.B.K Pada Artemia Salino Loarh
  98. Sintesis P Eti Benzofenon Dari Asam P. Etil Benzoat Dan Ben Zen
  99. Isolasi Dan Identifikasi Miu Noglo Bulin G (Lg G) Ayam Anti Protein Sub Unit Piu Salmonella Tyihi
  100. Pengaruh Proklok Perazin Terhadap Transfor Aktif Glukosa Pada Membran Usus Halus Tikus In Satu
  101. Pengaruh Radiasi Sinar Gamma Co-Go Trhadap Asan Amino Bebas Dan Daya Simpan Udang (Penaeles Monodon Fabriciusi)
  102. Uji Sitotoksisitas Kukumin Dan 4 Para Fluo Rofensi Kurkumin Terhadap Sel Mieloma
  103. Pengaruh Infus Daun Barlonia Prirutis L Terhadap Kelarutan Kalsium Batu Gunjal Selama In-Vitro
  104. Penetpan Kadar Vitamin Bi Di Dalam Kacang Kedelai Seta Olahanya
  105. Penggunaan Diazepam Dan Faktor-Faktor Yang Terkait Dalam Penyalhguaaan Di Kalangan Mahaswa Universitas Gajdah Mada
  106. Efek Ekstrak Metanol Dan Fraksi Esktrak Metanol Sponce Kode B 88 Terhadap Staphny Lococcus Aureus Atcc 25933, Eschesichia Coli Atcc 25922 Dan Dandida Albbicans Serta Aktivitas Terhadap Artemia Salina Learh
  107. Daya Larut Infus Rumpang Kunyit (Tanaman Curcuma Romostica Val) Terhadap Batu Ginjal Kalsium Secara Invitro
  108. Uji Hambatan Peletakan Vibrio Cholerae O1 Pada Sel Enterosit Usu Halus Tikus Menggunkan Anti Bodi Poliklonal Anti Protein 36 Kda Dan 48 Kda
Semoga Dengan adanya artikel ini yang membahas tentang kumpulan judul Skripsi pada jurusan farmasi bisa membantu teman-teman dan adik-adik dalam mencari bahan acuan untuk menentukan judul. Simak juga Judul farmasi lainnya di sini Kumpulan Judul Skripsi dan Tugas Akhir Farmasi Terbaru

Tumor Ovarium Dalam Kehamilan

Kehamilan Dengan Kista Ovarium


Tumor Indung telur adalah rongga berbentuk kantong berisi cairan di dalam jaringan ovarium.Tumor ovarium adalah suatu kantong abnormal berisi cairan atau setengah cair yang tumbuh dalam indung telur (ovarium).Kista ovarium biasanya tidak bersifat kanker, tetapi walaupun kista tersebut berukuran kecil.Diperlukan perhatian lebih lanjut untuk memastikan bahwa kista tersebut tidak berupa kanker (Setiati 2009). Kista indung telur (kista ovarium) relatif sering dijumpai, kista ini merupakan pembesaran dari indung telur yang mengandung cairan. Besarnya bervariasi dapat

kurang dari 5 centimeter sampai besarnya memenuhi rongga perut, sehingga menimbulkan sesak dan panas (Manuaba, 2009). Menurut Setiati (2009), menguraikan bahwa Tumor adalah segala benjolan tidak normal atau abnormal yang bukan radang. Berdasarkan golongannya, tumor dibagi menjadi dua, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Sedangkan kanker adalah istilah umum untuk semua jenis tumor ganas. Sel tumor pada tumor jinak bersifat tumbuh secara lambat. Oleh karena itu pada umumnya, tumor jinak tidak dapat cepat membesar. Pada masa perkembangannya, sel tumor mendesak jaringan sehat sekitarnya secara serempak sehingga terbentuk simpai (serabut pembungkus yang memisahkan jaringan tumor dari jaringan sehat) 

Diagnosis 

Menurut Llwellyn (2001), kista ovarium jinak tumbuh secara tersembunyi dan sering tidak dapat dideteksi selama beberapa tahun. Tidak menyebabkan nyeri, tetapi jika membesar dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan jarang menimbulkan gangguan menstruasi. Pemeriksaan abdomen dan vagina secara periodik akan dapat mendeteksi kista ini. Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan skrenning ultrason abdomen atau transvagina, yang dapat membedakannya dari kehamilan, kegemukan, pseudosiesis, kandung kemih penuh atau degenerasi kistik dari mioma. 

Penyebab 

Bila dilihat dari faktor penyebab Tumor ovarium, tidak ada satu orang pun yang mengetahui penyebab yang tepat dari kasus ini.Bagaimanapun penyakit ini tidak menular. Perempuan bisa mendapat penyakit ini karena mempunyai faktor-faktor risiko tertentu dibandingkan dengan perempuan lain. Adapun faktor risiko tumor ovarium rahim adalah umur, kista ovarium terjadi kebanyakan pada perempuan yang berumur usia diatas 45 tahun atau kurang dari 20 tahun (Anolis, 2011).

Kehamilan Dengan Kista Ovarium

Gejala Tumor Ovarium


1. Gejala klinis Tumor ovarium sangat bervariasi yaitu: 
Tanpa gejala apapun, karena besarnya bervariasi, gejalanya tidak menentu. Mungkin hanya ketidak nyamanan di perut bagian bawah. Setelah besarnya tertentu, pasien mencari pertolongan karena merasa perutnya membesar dan menimbulkan gejala perut terasa penuh dan sering sesak napas, karena perutnya tertekan oleh besarnya kista (Manuaba, 2009). Gejala penyakit dapat datang sebagai akibat penyulit kista indung telur diantaranya sakit mendadak pada perutnya karena terdapat perdarahan, kista, terpelintirnya tangkai kista atau kista pecah.Kista telah mengalami degenerasi ganas dengan gejala penderita kurus, perut terdapat cairan asites, dan sudah terdapat anak sebarnya (Manuaba, 2009). 

2. Menurut Anolis (2011), gejala tumor dapat berupa: 
Menstruasi datangnya terlambat yang sering disertai timbulnya rasa yang sangat nyeri. Nyeri, perasaan penuh atau tertekan di daerah perut 
Serangan nyeri tajam yang muncul mendadak pada perut bagian bawah. 
Tumbuhnya rambut pada bagian wajah dan bagian tubuh lainnya 
Pembengkakan pada tungkai bawah yang biasanya tidak disertai adanya rasa sakit,gangguan kencing dan sukar buang air besar. 

3. Menurut Yatim (2008), gejala tumor ovarium dapat berupa: 
Rasa nyeri yang menetap di rongga panggul disertai rasa agak gatal 
Rasa nyeri sewaktu bersetubuh atau nyeri rongga panggul kalau tubuh bergerak.

Rasa nyeri segera timbul siklus menstruasi selesai. Perdarahan menstruasi tidak seperti biasa. Mungkin perdarahan lebih lama, mungkin lebih pendek, atau mungkin tidak keluar darah menstruasi pada siklus biasa atau siklus menstruasi tidak teratur. 

Tumor Ovarium Dalam Kehamilan 
Pembesaran ovarium kurang dari 6 cm yang ditemukan pada awal kehamilan biasanya mencerminkan pembentukan korpus luteum. Satu dari 1.500 kehamilan mendapat komplikasi tumor yang terdeteksi secara klinis, berdiameter kurang dari 50 mm. Jika pemeriksaan ultrason dilakukan secara rutin, tumor ovarium dapat dideteksi pada 1 dari 200 kehamilan. Kebanyak tumor karena kista, biasanya karena pembesaran korpus luteum, yang dapat hilang secara spontan ( Llewelyn dan Jones,2001). 

Pada kehamilan yang disertai kista ovarii seolah – olah terjadi perebutan ruangan, ketika kehamilan makin membesar. Oleh karena itu, kehamilan dengan kista memerlukan operasi untuk mengangkat kista tersebut pada usia kehamilan 16 minggu. Kebanyakan adalah kistadenoma serosa, sedikit kistadenoma musinosa dan keduanya meliputi 65 persen dari semua neoplasma yang menjadi penyulit pada kehamilan. Teratoma mencakup 25 persen. Sisanya 10 persen terdiri dari berbagai tumor ovarium lainnya ( Llewelyn dan Jones,2001). 

Bahaya melangsungkan kehamilan bersama dengan tumor ovarii adalah dapat terjadi gangguan pertumbuhan janin yang akhirnya mengakibakan abortus, kematian dalam rahim. Pada kedudukan kista di pelvis minor, persalinan dapat terganggu dan dan memerlukan penyelesaian dengan jalan operasi seksio sesaria. Pada kedudukan kista ovarii di daerah fundus uteri, persalinan dapat berlangsung normal tetapi bahaya postpartum mungkin menjadi torsi kista, infeksi sampai abses. Oleh karena itu, segera setelah persalinan normal bila diketahui terdapat kista ovarii, laparotomi dilakukan untuk mengangkat kista tersebut. (Manuaba,2010). 

Pembagian tumor ovarium berdasarkan non neoplastik dan neoplastik yaitu: 

a. Non Neoplastik 
Kista folikel Kista ini berasal dari folikel de graaf yang tidak sampai berovulasi, namun tumbuh terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel primer yang setelah bertumbuh di bawah pengaruh estrogen tidak mengalami proses atresia yang lazim, melainkan membesar menjadi kista. Biasanya dapat di dapati beberapa kista dengan diameter kista 1-1,5 cm. Kista yang berdiri sendiri sebesar jeruk nipis. Cairan di dalam kista jernih dan mengandung estrogen, oleh sebab itu jenis kista ini sering mengganggu siklus haid. Kista folikel ini lambat laun mengacil dan menghilang spontan.

Kista Korpus Luteum Dalam keadaan normal korpus luteum lambat laun mengecil dan menjadi korpus albikans, kadang – kadang korpus luteum mempertahankan diri (korpus luteum pesisten). Perdarahan yang sering terjadi didalamnya menyebabkan terjadinya kista. Berisi cairan yang berwarna coklat karena darah tua. Frekuensi kista luteum lebih jarang dari pada kista folikel luteum lebih jarang daripada kista folikel dan yang pertama bisa menjadi lebih besar daripada yang kedua. 

Kista Teka Lutein Pada mola hidatidosa, koriokarsinoma, dan kadang – kadang tanpa adanya kelainan tersebut, ovarium dapat membesar dan menjadi kistik. Kista biasanya bilateral dan bisa menjadi sebesar tinju. Pada pemeriksaan mikroskopi terlihat luteinsasi sel – sel teka. Sel – sel granulosa dapat pula atresia. Tumbuhnya kista ini ialah akibat pengaruh hormon koriogonodotropin yang berlebihan dan dengan hilangnya mila atau koriokarsinoma ovarium akan mengecil spontan. 

Kista Inkulusi Germinal Kista ini terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian – bagian kecil dari epitel germaimativum pada permukaan ovarium. Tumor ini lebih banyak pada wanita yang lanjur usia dan besarnya jarang yang lebih dari 1 cm. Kista ini biasanya secara kebetulan ditemukan pada pemeriksaan histologik ovarium yang diangkat waktu operasi.

Kista Endometrium Kista ini yang terbentuk dari jaringan endometriosis (jaringan mirip dengan selaput dinding rahim yang tumbuh diluar rahim) menempel di ovarium dan berkembang menjadi kista. Kista ini berhubungan dengan endometriosis yang menimbulkan nyeri haid sanggama. 

Kista Stein – Leventhal Pada kista ini ovarium tampak pucat, membesar 2 sampai 3 kali, polikistik dan permukaannya licin. Kapsul ovarium menebal. Kista ini disebabkan oleh gangguan keseimbangan hormon. Umumnya pada penderita terdapat gangguan ovulasi, oleh karena endometrium hanya di pengaruhi estrogen (Prawirohardjo,2008). 

b. Neoplastik 
Kistoma Ovarii Simpleks Kistoma ovarii simpleks adalah kista yang permukaannya rata dan halus, biasanya bertangkai, seringkali bilateral, dan dapat menjadi besar. Dinding kista tipis berisi cairan jernih yang serosa dan berwana kuning. 

Kistadenoma Ovarii Musinosum Kista ini berasal dari teratoma dimana dalam pertumbuhannya satu elemen mengalahkan elemen lain. Kista lazimnya berbentuk multilokuler, dinding kista agak tebal dan berwarna ke abu- abuan. Jika dalam kista ini terjadi torsi (putaran tangkai) akan menyebabkan sirkulasi yang menyebabkan perdarahan dalam kista. 

Kistadenoma Ovarii Serosum Kista ini berasal dari epitel germinativum. Bentuk kista umumnya unilokular, bila multilokular perlu di curigai adanya keganasan. Kista ini dapat membesar, tetapi tidak sebesar kista musinosum. Gambaran klinis pada kasus ini tidak klasik. Selain teraba massa intraabdominal dapat timbul asites.

Kista Dermoid Kista dermoid adalah teratoma kistik jinak dengan struktur ektodermal berdiferensiasi sempurna dan lebih menonjol daripada mesoderm dan entoderm. Dinding kista keabu-abuan dan agak tipis, konsistensi sebagian kistik kenyal dan sebagian lagi padat. Dapat terjadi perubahan kearah keganasan, seperti karsinoma epidermoid. Kista ini diduga berasal dari sel telur melalui proses partenogenesis. Gambaran klinis adalah nyeri mendadak diperut bagian bawah karena torsi tangkai kista (Prawirohardjo,2008). 


Bahaya Tumor 
Salah satu bahaya yang ditakuti ialah apabila kista tersebut ganas.Sekalipun tidak semua kista mudah berubah menjadi ganas.Berdasarkan kajian teoritik, kista fungsional yang paling sering terjadi dan sangat jarang menjadi ganas. Sebaliknya kistadenoma yang jarang terjadi tetapi mudah menjadi ganas terutama pada usia di atas 45 tahun atau kurang dari 20 tahun. Bahaya lain dari kista adalah apabila terpuntir. Kejadian ini akan menimbulkan rasa sakit yang sangat dan memerlukan tindakan darurat untuk mencegah kista jangan sampai pecah. (Anolis, 2011). 

Pemeriksaan Dini : 
Pemeriksaan secara berkala dan teratur, minimal setahun sekali. Jika pada pemeriksaan pertama kista yang tidak terlalu besar ditemukan, dengan batasan 5 sentimeter, maka harus dilakukan follow up setiap tiga bulan sekali. Pemeriksaan dengan Ultrasonograffy (USG) Kadang meskipun dengan alat bantu USG, jenis kista tidak dapat dibedakan secara pasti. Oleh karena itu, diperlukan juga pemeriksaan anamnesis untuk menanyakan riwayat penyakitnya, seperti bagaimana menstruasinya, apakah ada nyeri atau tidak, sebagainya. 

Pemeriksaan fisik dan laboratorium Kista yang mengarah pada kanker memang dapat diperkirakan melalui USG karena gambaran tertentu dapat terlihat, misalnya dinding yang menebal atau tidak beraturan. Jadi, pertumbuhan dalam kista yang mengarah pada kanker dapat diketahui. Selain itu, pemeriksaan tumor marker juga dapat dilakukan, walaupun pemeriksaan ini tidak spesifik. Jika ditemukan kista berdiameter lebih dari lima sentimeter atau kurang dan hasil USG menunjukkan kecurigaan kearah kanker dan tumor marker-nya diperiksa tinggi, maka pemeriksaan ke arah kanker harus dipikirkan. Seandainya kista tersebut memang kanker, maka harus dilakukan follow updan, mungkin, obat-obat kemoterapi harus diberikan berdasarkan jenis sel-sel dan stadiumnya.Jika ternyata kista tersebut menjadi kanker indung telur, mau tidak mau tindakan opersi harus dilakukan.Semua itu harus dilakukan dengan hati-hati, jangan sampai kista tersebut pecah karena kista yang pecah dapat menyebar ke mana-mana.Setiati (2009). 

Perawatan dan Pengobatan
Menurut Anolis (2011), perawatan dan pengobatan tumor ovarium adalah sebagai berikut: 


1) Perawatan 
Terapi konservatif yaitu dengan melakukan observasi karena mayoritas kista adalah kista fisiologis yang akan menghilang dengan sendirinya. Jadi tidak perlu operasi karena tidak berkembang dan tidak mengarah keganasan 
Terapi bedah, diindikasikan bila kista tidak menghilang dalam beberapa kali obervasi atau bahkan semakin besar, kista yang ditemukan pada wanita menopause, kista yang menyebabkan nyeri yang luar biasa lebih-lebih jika sampai timbul perdarahan 

2) Pengobatan 
Pengobatan tergantung pada tipe dan ukuran kista serta usia penderita. Untuk kista folikel, kista ini tidak perlu diobati karena akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 1-3 bulan. Tetapi tetap harus konsultasi pada dokter. Untuk kista lutein golongan granulose lutein, yang sering terjadi pada wanita hamil, akan sembuh secara perlahan-lahan pada masa kehamilan trimester ketiga, sehingga jarang dilakukan operasi, sedangkan untuk golongan teka lutein, maka akan menghilang secara spontan jika faktor penyebabnya telah dihilangkan (Setiati, 2009), Untuk kista polikistik indung telur yang menetap atau persisten, operasi harus dilakukan untuk mengangkat kista tersebut agar tidak menimbulkan gangguan dan rasa sakit.Untuk kista fungsional, dapat digunakan pil kontrasepsi yang digunakan untuk mengecilkan ukuran kista.Pemakaian pil kontrasepsi juga mengurangi peluang pertumbuhan kista. 

Dalam menghadapi kista ovarium dapat memegang dua prinsip menurut Setiati (2009), antara lain: 
Sikap wait and see. Karena mayoritas kista adalah kista fungsional yang akan menyusut dengan sendirinya dalam 2-3 bulan maka semakin dini deteksinya, semakin mudah pengobatannya. Tentu, tiap wanita selalu berharga agar indung telurnya tetap utuh, tidak rusak atau dapat dipertahankan jika tim dokter mengambil keputusan untuk mengangkat kista. Kemungkinan tersebut menjadi ada jika kista ditemukan dalam stadium dini. Alternatif terapi dapat dilakukan dengan peberian pil KB dengan maksud menekan proses ovulasi. Dengan sendirinya, kista pun tidak akan tumbuh. 

Pilihan terapi bedah. Indikasi perlu dilakukan pembedahan adalah jika kista tidak menghilang dalam beberapa kali siklus menstruasi atau kista yang memiliki ukuran demikian besar, kista yang ditemukan pada wanita menopause, atau kista yang menimbulkan rasa nyeri luar biasa, lebih-lebih jika sampai timbul perdarahan.Tindakan bedah dapat sangat terbatas, yaitu berupa pengangkatan kista dengan tetap memperhatikan indung telur.Selain itu, pembedahan pun menyimpan kemungkinan lebih ekstensif, mulai dari pengangkatan seluruh indung telur atau lebih luas lagi, merembet ke pengambilan seluruh rahim. 


kista pada kehamilan trimester pertama
kista ovarium pada kehamilan pdf
kista diluar rahim saat hamil
kehamilan disertai kista
menghilangkan kista saat hamil
kista saat hamil 2 bulan
bahaya kista saat melahirkan normal

Daftar Pustaka

Anolis, A. (2011). 17 Penyakit Wanita yang Paling Mematikan. Buana Pustaka. Yogjakarta
Derek Lewellyn.jones. (2001). Dasar-dasar obstetric dan ginekologi, Alih bahasa; Hadyanto, Ed.6 Jakarta 
Johari, A& Gandis, F. (2013). Insiden Kanker Ovarium Berdasarkan Faktor Resiko di RSUP Haji Adam Malik Tahun 2008 – 2011, Jurnal FK USU Volume 1 no 1 tahun 2013. 
Manuaba, IAC. (2009). Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita.EGC. Jakarta. Prawirhardjo, S. (2008).Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta 
Setiati, E. (2009). Waspadai 4 Kanker Ganas Pembunuh Wanita, Andi. Jogjakarta. 
Siringo.D, Hiswani & Jemadi. Karakteristik Penderita Kista Ovarium Yang Dirawat Inap Di Rumah Sakit ST Elisabeth Medan Tahun 2008 – 2009, Jurnal FK USU

            Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)

            Makalah Berat Bayi Lahir Rendah

            Berat Badan Lahir :

            Berat badan lahir adalah suatu indikator kesehatan bayi baru lahir. Rata-rata bayi normal (gestasi 37-41 minggu) adalah 3000-3600 gram. Berat badan ini tergantung juga dari ras, status ekonomi orang tua, ukuran orang tua, dan paritas ibu. Secara umum berat bayi lahir rendah dan berat bayi lahir lebih besar resikonya untuk mengalami masalah (Sylviati, 2008 dalam Siagian, 2010, hal. 5).

            Menurut Muslimatun (2010, hal. 2) berat badan lahir adalah berat badan neonatus pada saat kelahiran, ditimbang dalam waktu satu jam sesudah lahir. Bayi berat lahir cukup adalah bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram.

            Berat bayi lahir normal Menurut Rochmah, Vasra, Dahliana dan Sumastri (2012, hal. 1) bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai dengan 4000 gram.

            Ciri-ciri bayi normal :
            1. Berat badan 2500 – 4000 gram 
            2. Panjang badan lahir 48 – 52 cm 
            3. Lingkar dada 30 – 38 cm 
            4. Lingkar kepala 33 – 35 
            5. Frekuensi jantung 180 denyut/menit, kemudian menurun sampai 120 -140 denyut/menit 
            6. Pernapasan pada beberapa menit pertama cepat, kira-kira 80 kali/menit, kemudian menurun setelah tenang kira-kira 40 kali/menit. 
            7. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup terbentuk dan diliputi verniks kaseosa. 
            8. Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna 
            9. Kuku agak panjang dan lemas 
            10. Genetalia : labia mayora sudah menutupi labia minora (pada perempuan), testis sudah turun (pada laki-laki). 
            Berat Bayi Lahir Rendah

            a. Defenisi:
            Menurut Maryunani dan Nurhayati (2009, hal.21&22), ada beberapa defenisi mengenai bayi dengan berat lahir rendah : 
            1. Neonatus atau bayi baru lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahirnya kurang dari 2500 gram 
            2. Istilah prematuritas telah diganti dengan berat badan lahir rendah (BBLR) karena terdapat dua bentuk penyebab kelahiran bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram, yaitu karena usia kehamilan kurang dari 37 minggu, berat badan lebih rendah dari semestinya, sekalipun umur cukup, atau karena kombinasi keduanya. 

            b. Klasifikasi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR):
            Menurut Muslimatun (2010) di bagi menurut berat badan lahir : 
            1. Bayi berat lahir rendah (BBLR)/ Low birthweight infant adalah bayi dengan berat badan lahir 1500 sampai kurang dari 2500 gram. 
            2. Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR)/ Very low birthweight infant adalah bayi dengan berat badan lahir 1000-1500 gram. 
            3. Bayi berat lahir amat sangat rendah (BBLASR)/Extremely very low birthweight infant adalah bayi lahir hidup dengan berat badan kurang dari 1000 gram. 
            Menurut Pantiawati (2010), bayi berat badan rendah (BBLR) dapat dikelompokkan menjadi prematuritas murni dan dismatur. 
            1. Prematuritas Murni Prematuritas murni adalah bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat badan sesuai dengan berat badan untuk usia kehamilan atau disebut neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan. 
            2. Dismatur Dismatur adalah bayi dengan berat badan kurang dari berat badan yang seharusnya untuk usia kehamilannya, yaitu berat badan dibawah persentil 10 pada kurva pertumbuhan intra uterin, biasa disebut dengan bayi kecil untuk masa kehamilan. Hal ini menunjukkan bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin, keadaan ini berhubungan dengan gangguan sirkulasi dan efisiensi plasenta. 
            Etiologi 
            Menurut Maryunani dan Nurhayati (2009, hal.23), penyebab berat badan lahir rendah kurang bulan/neonatus kurang bulan-kecil masa kehamilan(NKB-KMK) antara lain disebabkan oleh : 
            • Berat badan ibu rendah 
            • Ibu hamil yang masih remaja 
            • Kehamilan kembar 
            • Ibu pernah melahirkan bayi prematur/berat badan rendah sebelumnya. 
            • Ibu dengan inkompeten serviks (mulut rahim yang lemah sehingga tidak mampu menahan berat bayi dalam rahim) 
            • Ibu hamil yang sedang sakit. 
            • Tidak diketahui penyebabnya. 
            Sedangkan bayi yang lahir cukup bulan tetapi memiliki berat badan kurang/neonatus cukup bulan-kecil untuk masa kehamilan (NCB-KMK) antara lain disebabkan oleh : 
            • Ibu hamil dengan gizi buruk/kurangan nutrisi 
            • Ibu dengan penyakit hipertensi, preeklampsia, anemia. 
            • Ibu menderita penyakit kronis, infeksi dan malaria kronik. 
            • Ibu hamil yang merokok dan penyalahgunaan obat
             Penatalaksanaan pada BBLR yaitu : 
            1. Pemberian ASI. ASI mempunyai keuntungan yaitu kadar protein tinggi, laktalalbumin, zat kekebalan tubuh, lipase dan asam lemak esensial, laktosa dan oligosakarida untuk memacu motillitas usus dan perlindungan terhadap penyakit. Dari segi psikologis, pemberian ASI dapat meningkatkan ikatan antara ibu dan bayi. Bayi berat lahir rendah rentan terhadap kekurangan nutrisi, fungsi organ belum matang, kebutuhan nutrisinya besar dan mudah sakit sehingga pemberian ASI atau nutrisi yang tepat penting untuk tumbuh kembang yang optimal bagi bayi. 
            2. Pencegahan kehilangan panas. Cara pencegahan pada bayi berat lahir rendah yang sehat yaitu segera setelah lahir bayi dikeringkan dan dibedong dengan popok hangat, pemeriksaan di kamar bersalin dilakukan di bawah radiant warmer (box bayi hangat), topi dipakaikan untuk mencegah kehilangan panas melalui kulit kepala, dan bila suhu bayi stabil, bayi dapat dirawat di boks terbuka dan diselimuti. Sedangkan pada bayi berat lahir rendah yang sakit cara untuk mencegah kehilangan panas yaitu bayi harus segera dikeringkan, untuk menstransportasi bayi digunakan transport inkubator yang sudah hangat, tindakan terhadap bayi dilakukan dibawah radiant warmer, dan suhu lingkungan netral dipertahankan. 
            3. Metode Kanguru. Metode kanguru merupakan salah satu metode perawatan BBLR untuk mencegah hipotermi pada bayi baru lahir. Keunggulan metode ini adalah bayi mendapatkan sumber panas alami (36-37 ° C) langsung dari kulit ibu, mendapatkan kehangatan udara dalam kantung/baju ibu serta ASI menjadi encer. 
            4. Pemijatan bayi. Pemijatan pada bayi dengan berat badan lahir rendah bertujuan untuk memacu pertumbuhan berat badan bayi, membantu bayi melepaskan rasa tegang dan gelisah, menguatkan dan meningkatkan sistem imunologi, merangsang pencernaan makanan dan pengeluaran kotoran, membuat bayi tidur lebih tenang, dan menjalin komunikasi dan ikatan antara bayi atau orang tua. 
            Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Berat Badan Lahir:
            1. Usia Ibu. Umur ibu erat kaitannya dengan berat bayi lahir. Kehamilan dibawah umur 16 tahun merupakan kehamilan berisiko tinggi, 2-4 kali lebih tinggu di bandingkan dengan kehamilan pada wanita yang cukup umur. Pada umur yang masih muda, perkembangan organ-organ reproduksi dan fungsi fisiologisnya belum optimal. Selain itu emosi dan kejiwaannya belum matang, sehingga pada saat kehamilan ibu tersebut belum dapat menanggapi kehamilan secara sempurna dan sering terjadi komplikasi. Selain itu semakin muda usia ibu hamil, maka akan terjadi bahaya bayi lahir kurang bulan, perdarahan, dan bayi lahir ringan (Rochjati, 2003 dalam Siagian, 2010). Pada usia 21-35 tahun resiko gangguan kesehatan pada ibu hamil paling rendah yaitu sekitar 15 %. Selain itu apabila dilihat dari perkembangan kematangan, wanita pada kelompok umur ini telah memiliki kematangan reproduksi, emosional maupun aspek sosial. Meskipun pada saat ini beberapa wanita di usia 21 tahun menunda pernikahan karena belum meletakkan prioritas utama pada kehidupan baru tersebut. Pada umumnya usia ini merupakan usia yang ideal untuk hamil dan melahirkan untuk menekan gangguan kesehatan baik pada ibu dan juga janin (Revina, 2014)  
            2. Penyakit Saat Kehamilan. Penyakit pada saat kehamilan yang dapat mempengaruhi berat bayi lahir diantaranya adalah diabetes militus, cacar air, dan penyakit infeksi TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes) (Rochjati, 2003 dalam Siagian, 2010). Diabetes Militus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia (meningkatnya kadar gula darah) yang terjadi karna kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Bahaya yang terjadi pada janin yaitu abortus, kelainan kongenital, respiratory distress, neonatal hiperglikemia, makrosomia, hipocalsemia, kematian perinatal akibat diabetik ketoasidosism dan hiperbilirubinemia (Zein, 2009, hal. 1&6).  
            3. Kadar Hemoglobin. Data Depkes RI (2008) diketahui bahwa 24,5% ibu hamil menderita anemia. Anemia pada ibu hamil akan menambah resiko mendapatkan bayi berat lahir rendah (BBLR), resiko perdarahan sebelum dan pada saat persalinan, bahkan dapat menyebabkan kematian ibu dan bayinya, jika ibu tersebut menderita anemia berat. Hal ini disebabkan karena kurangnya suplai darah nutrisi akan oksigen pada plasenta yang akan berpengaruh pada fungsi plasenta terhadap janin.  
            4. Status gizi ibu hamil. Gizi ibu hamil menentukan berat bayi yang dilahirkan, maka pemantauan gizi ibu hamil sangatlah penting dilakukan. Pengukuran antropometri merupakan salah satu cara untuk menilai status gizi ibu hamil. Ukuran antropometri merupaka salah satu cara untuk menilai status gizi ibu hamil. Ukuran antropometri ibu hamil yang paling sering digunakan adalah kenaikan berat badan ibu hamil dan ukuran lingkar lengan atas (LLA) selama kehamilan (Riskesdas, 2007).  
            • Perilaku dan Lingkungan Faktor resiko perilaku dan lingkungan meliputi saat hamil terkena paparan asap rokok, status nutrisi buruk, konsumsi alkohol, dan konsumsi norkoba serta faktor risiko fasilitas kesehatan, seperti perawatan kehamailan yang tidak rutin atau tidak sama sekali. Paparan asap rokok Merokok dalam kehamilan mempunyai hubungan yang kuat dengan kejadian solusio plasenta, BBLR dan kematian janin. Akibat merokok aktif tidak jauh berbeda dengan merokok pasif (suami perokok atau bekerja di lingkungan perokok) akan mengalami sulit tidur, tidur kurang nyenyak dan rasa sulit bernafas dibandingkan ibu hamil yang tidak terpapar asap rokok (Krisnadi, Effendi, Dan Pribadi, 2009, hal. 47).  
            • Status nutrisi buruk Wanita hamil dengan status gizi kurang memiliki kategori risiko tinggi keguguran, kematian bayi dalam kandungan, kematian bayi baru lahir, cacat dan berat lahir rendah (Rukiah, 2013, hal. 91).  
            • Fasilitas kesehatan Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk mengenal dan mengidentifikasi masalah yang timbul selama kehamilan, sehingga kesehatan selama ibu hamil dapat terpelihara dan yang terpenting ibu dan bayi dalam kandungan akan baik dan sehat sampai saat persalinan. Pemeriksaan kehamilan dilakukan agar kita dapat segera mengetahui apabila terjadi gangguan/kelainan padi ibu hamil dan bayi yang dikandung, sehingga dapat segera ditolong tenaga kesehatan (Depkes RI, 2008). 
            berat bayi lahir rendah pdf bayi berat lahir rendah menurut who bayi berat lahir rendah dan komplikasinya bayi berat lahir rendah ppt berat badan bayi lahir rendah makalah berat badan lahir rendah berat badan lahir rendah pdf bayi bblr cukup bulan

            berat bayi lahir rendah pdf
            bayi berat lahir rendah menurut who
            bayi berat lahir rendah dan komplikasinya
            bayi berat lahir rendah ppt
            berat badan bayi lahir rendah
            makalah berat badan lahir rendah
            berat badan lahir rendah pdf
            bayi bblr cukup bulan
            DAFTAR PUSTAKA
            • Kusmiati, Y., Wahyuningsih, PH., Sujiyatini. (2009). Perawatan Ibu Hamil. Yogyakarta : Fitramaya. 
            • Maryunani, A., Nurhayati. (2009). Asuhan Kegawatdaruratan Dan Penyulit Pada Neonatus. Jakarta : Trans Info Media. 
            • Muslimatun, NW. (2010). Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita. Yogyakarta : Fitramaya. 
            • Neil, Rose, W. (2007). Panduan Lengkap Perawatan Kehamilan. Jakarta : Dian Rakyat.
            • Prawirohardjo, P. (2008). Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
            • Rochmah, Vasra, E., Dahliana, Sumastri. (2012). Asuhan Neonatus, Bayi & Balita Panduan Belajar. Jakarta : EGC. 
            • Salmah, Rusmiati, Maryanah, Susanti, NN. (2006). Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta : EGC.